Senandung Lentera Malam di Panggung Demokrasi Kampus UIN ( Jogja )

 Foto Lentera Malam
Salam !
Salam Budaya ! Salam sejahtera untuk kalian, orang-orang terpilih yang masuk di sebuah media yang bisa disebut buku tulis ( diari ) sebuah kegiatan atau perjalanan Lentera Malam. Kami ucapkan selamat datang di tulisan dengan judul "Senandung Lentera Malam di Panggung Demokrasi Kampus UIN ( Jogja )", sebuah tulisan tentang pertunjukan Lentera Malam ketika berada di acara "Pelantikan dan Gelar Budaya" oleh IKPM Jateng yang berada di DIY ( Daerah Istimewa Yogyakarta ).
Apa itu IKPM ?
Banyak sekali pertanyaan yang terlontar ketika kita menginformasikan bahwa Lentera Malam akan bersenandung di acara IKPM, satu per satu pertanyaan itu muncul, hingga disini ingin kami tuliskan sedikit gambaran mengenai IKPM. IKPM yaitu akronim dari Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa, sebuah organisasi kedaerahan yang menyatukan saudara/saudari dari satu daerah ketika mereka berada di daerah lain. Ilustrasinya seperti ini, ada beberapa mahasiswa dari kota Banjarnegara, ketika menuntut ilmu di luar kota, misalkan di Jogja, mereka butuh teman, butuh relasi atau butuh kekeluargaan yang sama-sama satu daerah, untuk contoh kecilnya adalah KMB ( Keluarga Mahasiswa Banjarnegara ) sebuah wadah untuk teman-teman Banjarnegara yang menempuh pendidikan di kota Jogja. Tidak perlu kami tulisakan panjang lebar, mungkin sampai sini sudah paham tentang hal itu.
Kenapa Lentera Malam Bersenandung di Acara Tersebut ?
Asal muasal kenapa Lentera Malam bisa diberi kesempatan untuk bersenandung di acara Pelantikan dan Gelar Budaya yaitu karena sebelumnya pernah ada silaturahmi yang terjalin antara KMB dengan Lentera Malam, ketika acara Halalbihalal KMB di kampus Politeknik Banjarnegara. Dari situlah ada ikatan persaudaraan yang membuat kedekatan KMB dengan Lentera Malam terjalin apik, terbungkus rapih bagaikan parsel lebaran yang siap dikirim ke alamat. Dalam pertunjukan ini, Lentera Malam dibebani tanggungjawab berangkap, dimana Lentera Malam mewakili KMB di acara IKPM Jateng, kemudian di lain sisi, Lentera Malam harus menjunjung tinggi nama Banjarnegara, bisa dibilang mewakili Banjarnegara, salah satu penampilan dari 9 kabupaten yang ikut dalam panggung tersebut. Tanggung jawab yang tak bisa diremehkan, membuat semua anggota Lentera Malam berdetak kencang jantungnya.
Foto Personil Lentera Malam
Kami di Malam Pertunjukan itu....
Perjalanan dari Banjarnegara sampai ke kota Jogja ada banyak cerita disetiap individu dar 5 bagian Lentera Malam ini, tak bisa kami tuliskan satu per satu. Hingga kita bermuara di satu tempat di Pogung Lor ( Jogja ) di sebuah rumah kontrakan, salah satunya dari bagian Lentera Malam adalah penghuni kontrakan tersebut. Berkumpul, berdiskusi, bercanda, hingga beberapa aktifitas lain kami lakukan disana, mengikat kekeluargaan yang semakin erat, sesekali bercerita di luar topik pembicaraan untuk Lentera Malam, seperti celoteh boby yang sedang hobi sekali dengan minuman "susu", celoteh imam tentang keluh kesah tentang beberapa hal yang sedang dilaluinya, celoteh elza yang sedang begitu jatuh cinta dengan sosok "Risa Sarasvati" yang pada tanggal 20 September 2014 kebetulan perform di Jogja, sangat disayangkan tidak bisa menyaksikan aksi panggung Sarasvati karena Lentera Malam sedang mengemban tanggung jawab untuk bersenandung di tanggal dan waktu yang nyaris bersamaan, kemudian celoteh ian ( lebih akrab dipanggil ipong ) tentang beberapa project yang ingin dan akan dikerjakannya, celoteh bimbim tentang caps pilox dan kelengkapan menggambarnya, notabenya bimbim adalah penulis, penulis di jalanan atau yang biasa disebut dengan street art writter. Semua berlalu secepat kedipan mata, akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 18:00 wib dimana kami harus bersiap-siap bergegas menuju tempat berlangsungnya acara. Sekitar pukul 18:45 wib kita menuju ke kampus UIN, tiba disana sekitar pukul 19:20 karena kondisi jalan sedikit macet. Sampai di tempat, kami disambut hangat ramah oleh perwakilan dari KMB ada Mas Aan dan Mbah Giyan, hingga larut dalam obrolan yang begitu panjang, tentang persiapan untuk senandung Lentera Malam, tentang acara-acara kedepannya, tentang beberapa kegiatan IKPM dan sebagainya, begitu panjang dan menyenangkan. 
Ada hal tabu yang tak seharusnya diceritakan, tapi ini Proses !
Hal tabu ? sebentar.. sebentar... jauhkan pemikiran kalian tentang tabu adalah hal negatif dengan unsur terbuka ( lebih kejamnya lagi jika kalian beranggapan tentang hal seperti pornografi / pornoaksi / sara ). Waktu sudah menunjukan pukul 20:15, waktu dimana seharusnya Lentera Malam bersenandung, di urutan ke tiga dari 9 penampil di acara tersebut. Sudah persiapan segalanya mulai dari gitar, djembe, wayang, harmonika dan lain sebagainya, ketika itu ada satu problem, entah karena salah komunikasi atau memang kurang teliti. Puisi !, ketika itu beberapa lembar puisi yang harusnya disajikan di Senandung Lentera Malam itu tertinggal di rumah kontrakan ! sedikit panik, sedikit kecewa dan bercampur aduk beberapa rasa yang ada di dalam hati, sempat juga tetesan air mata dari Elza, karena sangat kecewa, kecewa karena tidak dapat menyaksikan penampilan Risa Sarasvati, kenapa demikian ? apa hubungannya puisi tertinggal dengan penampilan Risa Sarasvati ?, sedikit kami bercerita tentang jadwal yang sudah kami rencanakan sebelumnya, yaitu Lentera Malam bersenandung pukul 20:00 hingga 20:30 wib, kemudian ke JEC ( Jogja Expo Center ) menyaksikan penampilan Risa Sarasvati pukul 21:00 hingga 22:00 wib, namun karena tertinggalnya puisi untuk senandung Lentera Malam, akhirnya Lentera Malam bersenandung pukul 22:00 wib, menjadi bagian akhir dari acara Pelantikan dan Gelar Budaya IKPM Jateng. Jadwal tak seperti rencana dan harapan, hingga akhirnya terjadi banyak perubahan disana.
Senandung Lentera Malam
Tarian Sari ( Karya Frau ) menjadi pembuka Senandung Lentera Malam di pertunjukan malam itu, kemudian dilanjutkan dengan kidung "Bahtera dan Balada", pembacaan puisi, kidung "Dinasti Tanah Pusaka", kemudian sedikit salam atau yang biasa kami sebut "Mulut sampah", malam itu tentang relaksasi pertanyaan "Apa yang Banjarnegara berikan untuk kita? coba dirubah menjadi Apa yang bisa kita  berikan untuk Banjarnegara ?", kemudian di akhiri dengan kidung "Labirin Batin" yang selalu saja dalam proses perjalannya selalu menemukan hal ganjil yang mungkin akan kami ceritakan di tulisan selanjutnya.
Lentera Malam bersama KMB ( Keluarga Mahasiswa Banjarnegara )
Akhir dari Senandung Lentera Malam
Lentera Malam begitu bangga ketika tepuk tangan meriah mengakhiri perjuntukan Lentera Malam, selalu puas dengan hal tersebut, lelah dalam perjalanan Banjarnegara menuju Jogja sangat terbayarkan ketika riuh tepuk tangan menjadi penutup Senandung Lentera Malam. Terima kasih untuk IKPM Jateng yang telah memberi ruang dan waktu untuk kami bersenandung, terima kasih untuk KMB ( Keluarga Mahasiswa Banjarnegara ) yang telah memberi kepercayaan kepada Lentera Malam untuk menjadi delegasi di gelar budaya tersebut, bangga sekali kami dapat bersenandung di depan banyak teman-teman dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Terima kasih kepada saudara Angga Dwi K yang malam itu berkolaborasi memainkan wayang dalam kidung "Dinasti Tanah Pusaka" yang menggambarkan tentang satu orang dan satu pohon. Dimana manusia kini sudah mulai merusak alam, tidak ingat bahwasanya manusia dapat melangsungkan kehidupan juga karena pengaruh besar alam raya ini, Tuhan menciptakan manusia dan alam untuk saling berdampingan, saling menjaga, saling melengkapi. Sekian dari kami, terima kasih untuk pembaca setia perjalanan kami, semoga Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk kita semua. Aamiin.

Karya Sandang #DimensiAlamLiberal

Kaos Lentera Malam
Karya Sandang #DimensiAlamLiberal