Lentera Malam Project ?
![]() |
| Lentera Malam Project |
LENTERA MALAM ?
Lentera
Malam adalah salah satu dari bagian peradaban yang semakin mencemaskan,
bermaksud untuk mengingatkan kembali sebuah arti tatanan diorama dan bukan
untuk tujuan menggurui siapapun. Lentera Malam, Nama sederhana itu mengandung
makna bahwasanya manusia dalam hidup butuh pelita (petunjuk) untuk menyusuri
kegelapan hati sampai muara kan menjemputnya.
Digerakkan
oleh para anak manusia yang juga ingin mencoba mengembalikkan naluri seni dalam
diri mereka, karena sudah mulai pudar oleh sistem-sistem yang telah melunturkan
otak kanan dan sistem itu diciptakan
oleh sebangsanya, ya! Sebangsa mereka. Juga karena alasan keletihan mereka yang
sudah sekian lama ‘menjual diri’ kepada publik, Lentera Malam adalah tempat
dimana obat penyembuh luka jiwa itu dinyatakan ada diantara berjuta pelipur
fana di dunia. Tempat dimana mereka meletakkan seni pada singgasana hakiki,
serta tempat dimana paduka adalah gelar bagi mereka dalam berkesenian. Bukan
lagi HAMBA!
Anak-anak manusia itu bernama Bimbim, Boby,
Imam, Ipong dan Elza. Mereka semua adalah nakhoda dari sebuah bahtera yang
bernama Lentera Malam. Bahtera itu disiapkan untuk menghadapi ombak maupun
badai problema yang senantiasa menghantam kalbu dan jiwa.
Berangkat dari latar belakang mereka yang
berasal dari lingkungan musik, tetapi ingin membuat konsep yang berbeda, salah
satunya yaitu bermusik sambil bermunajat namun bukan berada didalam konsep
band. Oleh karena itu mereka menyebut sebagai grup yang bertengger dengan
ukiran nama Musikalisasi Puisi diatas karas bahteranya. Kenapa harus
musikalisasi puisi? Sebut saja ketika kita melakukan lari marathon dengan kita
melakukan yoga, lari marathon adalah berapi-api sedangkan yoga adalah
ketenangan hati. Mereka semua dalam posisi melakukan yoga, seperti itulah
alasan mereka dalam membentuk grup atau wadah seni ini. Butuh ketenangan,
tetapi bergerak secara pasti. Temanya pun tentang Manusia, Alam, dan Tuhan. Dalam
penyampaianya, Lentera Malam menjelma sebagai manusia yang polos, dimana mereka
harus menjadi sosok anak kecil yang selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan
mudah namun kadang sulit untuk menjawabnya.
PROSES!
Berawal
dari Boby yang berniat membuat project sampingan pada awal 2014. Ia ingin
membuat project yang mengusung konsep musikalisasi puisi. Waktu itu, Homicide
berperan cukup besar dalam memberi pengaruh atau dorongan untuk sebuah project
tidak penting ini. Namun karena project berkonsep dengan satu gitar yang mengiringi
sang pembaca puisi. Maka Boby mengajak sahabatnya yang bernama Imam untuk
bergabung, serta meminta Imam yang notabenya adalah seorang gitaris dari band
Dirty Rumble untuk berganti posisi sebagai pembaca puisi dalam project tersebut.
Sampai akhirnya Imam pun meng-aamiin-I permintaan Boby dan ia segera bergabung
dengannya. Karena menurut Imam sendiri ini adalah hal baru yang tidak pernah ia
lakukan diluar kegiatannya sebagai seorang gitaris. Setelah bergabung, mereka
bersepakat bahwa karya mereka adalah karya hanya untuk kepuasan diri, bukan
untuk orang lain. Persetan dengan telinga orang-orang yang enggan menerima. Dengan modal dan kemampuan seadanya, mereka
mulai membuat materi satu per-satu sampai merekamnyapun juga sendiri. Namun proses
pengerjaan berlangsung cukup lama, selain project ini adalah project pertama mereka
( Terutama pada jenis musik dan cara mengeksekusinya ) juga karena saat itu Imam sedang fokus dengan
bandnya. Setelah dua/tiga bulan lamanya karya mereka pun jadi, tetapi mereka
tak puas dengan itu semua. Sampai pada akhirnya mengajak Bimbim, Bimbim adalah
sosok yang tidak asing lagi dengan dunia rapp. Oleh sebab itu Boby dan Imam
merekrutnya sebagai pembaca puisi, supaya Imam bergerak ke barisan belakang dan
membantu Boby melengkapi petikan dawai gitarnya. Terbentuklah sebuah nama
sederhana “Lentera Malam”.
Kemudian
mereka membuat album pendek yang awalnya hanya untuk dipublikasikan media
sosial, dengan tujuan mengumandangkan karya tanpa berambisi untuk sebuah
apresiasi dari pendengarnya. Tidak hanya puas di titik itu, mereka ingin
mencoba meluapkan karya mereka tidak hanya dalam bentuk audio visual saja,
melainkan melalui karya nyata yang disampaikan tak hanya untuk telinga, mata
dan batin menjadi saksi dari karya mereka. “Pagelaran Lentera Malam” adalah
muara daripada tujuan tersebut. Dalam proses acara tersebut mereka munculah dua
orang lagi yaitu Ipong dan Elza untuk melengkapi barisan Lentera Malam. Ipong
pada djembe dan alat-alat musik yang asing terdengar oleh khalayak ramai serta
alat non-konvensional lainnya. Sedangkan Elza merambah sebagai pengolah nada
untuk mempercantik hentakkan syair yang keras dari Bimbim. Dibuka dengan
pameran-pameran yang meliputi seni rupa dan sastra, juga bekerjasama dengan
seniman-seniman Banjarnegara yang notabenya sudah lebih dulu berkecimpung di ranah
kesenian, seperti kolaborasi teater dan tari dalam pertunjukan puncak
peluncuran album pendeknya. Acarapun berakhir dengan tepuk tangan yang meriah
dari para penikmat yang datang.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)


