Senandung Lentera Malam di Acara Napak Lair Teater Perisai yg Ke-20
Sebelumnya, kami dari Lentera Malam ingin mengucapkan selamat kepada Teater Perisai (UMP) yg telah berproses selama 2 dekade. Di tahun 2014 ini, usia 20 tahun adalah usia dimana tak lagi disebut muda atau remaja, ini adalah usia dimana sebutan dewasa sudah sepantasnya menjadi gelar yang diperoleh untuk Teater Perisai. Selamat dan selamat yang hanya bisa kami ucap sebagai hadiah untuk Napak Lair yang ke 20 tersebut.

#FUNSASIYA2014
Hashtag #funtasiya2014 sedikit membuat penghuni jejaring sosial ( twitter ) penasaran, banyak yang mencoba dengan tidak sengaja atau bahkan dengan sengaja membuka hashtag tersebut, menggali informasi yang ada didalamnya. Hashtag #funtasiya2014 adalah hashtag yang digunakan untuk informasi acara Napak Lair Teater Perisai, digunakan sebagai nama acara yaitu "FUNTASIYA", kenapa nama itu tercetus ? silakan tanyakan ke Teater Perisai di akun @TeaterPerisai .
Perjalanan Lentera Malam ke Purwokerto
Tepatnya pada hari Jumat 17 Oktober 2014, hampir seperti ketika Bersenandung di Jogja, kami berangkat tidak bersamaan seperti kelompok pada umumnya. Terbagi atas beberapa gelombang, ada yang siang sudah sampai ada juga sebagian yang sampai tempat ketika hari mulai petang, ini bukan menjadi masalah bagi kami, karena kami penuh toleransi dan tanggungjawab untuk setiap proses yang kami kerjakan selama ini. Alhamdulillah, tidak ada kendala dalam perjalanan, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau hal-hal yang menghambat perjalanan kami, semua berjalan lancar tanpa kendala.
Persiapan Sebelum Bersenandung
Setelah semuanya berkumpul di tempat pertunjukan, di kampus UMP, malam mulai menyelimuti bumi dengan gelapnya. Kami memutuskan untuk berlatih sejenak untuk gladi bersih, kami diberi ruang, yaitu di sekre BEM UMP yang letaknya sekitar 200 meter dari panggung pertunjukan. Sekitar pukul 20:00 wib kami semua menuju gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) dengan berjalan kaki bersama sembari bercakap santai, sesekali bercanda sembari membahas persiapan untuk Senandung malam itu. Hampir sampai di gedung PKM itu, tiba-tiba saudari Elza berteriak kaget sembari berlari untuk segera masuk ke gedung. Lagi-lagi Elza melihat sosok yang tak bisa dilihat oleh teman-teman lain, ini bukan kejadian pertama kalinya, ketika Lentera Malam menuju Senandung, ini kali keduanya Elza melihat penampakan makhluk dari dunia lain, pertama kali adalah di Gubuk Seni Imajinasi menuju Senandung Lentera Malam di FKB ( Festival Kesenianan Banjarnegara ) Agustus lalu. Sedikit bercerita tentang Elza, salah satu bagian dari Lentera Malam yang mengatur nada atau kebanyakan orang menyebutnya "vokalis". Sejak kecil dia di karuniai kelebihan oleh Sang Pencipta, dia bisa melihat makhluk di alam lain, tetapi belum dapat berinteraksi dengan mereka. Malam itu di jalan menuju gedung PKM, di sekitar gedung PKM itu ada sosok makhluk dunia lain. "Ya... sosoknya gitu, rambutnya panjang tapi ga terlalu panjang, muka'nya pucet, mata'nya sayu gitu, pakai baju putih agak kotor dan lusuh, tatapannya ke arahku tapi ga ganggu, usianya kisaran 25-27" ungkapnya ketika ditanya sosok apa yang telah dia liat.
Senandung Lentera Malam di acara FUNTASIYA 2014
Malam itu sekitar pukul 21:40, Lentera Malam bersiap untuk senandung di rangkaian acara Napak Lair Teater Perisai. Persiapan seperti wayang, gitar, djembe, hingga yang tak terlewatkan yaitu lentera, semua telah kami siapkan. Pengunjung mulai memadati area depan panggung pertunjukan, saat itu banyak pengunjung yang baru saja keluar dari dalam Auditorium UMP, telah menyaksikan pertunjukan teater. "Lingsir Wengi" menjadi awal mula Senandung Lentera Malam di panggung FUNTASIYA 2014 tersebut, disusul dengan kidung "Tarian Sari" - Frau, "Bahtera Dan Balada", "Dinasti Tanah Pusaka" berkolaborasi dengan saudara Angga Dwi K sebagai dalang wayang ( karakter Punta Dewa & Werkudara ), kemudian disusul dengan cerita singkat oleh saudara Angga yang dengan lihainya memainkan wayang yang dalam penyampaiannya intinya adalah "Manusia seharusnya menjaga lingkungan yang telah menjadi tempat singgahnya selama ini, diambil dari Surat Ar Rum ayat 41 : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." selain itu juga ada sedikit tambahan pesan yang disampaikan saudara Angga yaitu "Semakin tinggi jabatan manusia, semakin banyak harta yang dimiliki, tetapi tidak mempunyai hati nurani dan memikirkan kelestarian alam semesta, maka manusia akan merasakan karma dari alam semesta ini berupa bencana, maka berhati-hatilah kalian dalam bertindak untuk kelestarian alam", kemudian kidung "Labirin Batin" yang berkolaborasi dengan saudara Mukhammad Awan Yustira yang memainkan biola dan suling bambu, kemudian kidung "Sajak Suara" karya Wiji Tukul kami bawakan perdana di Senandung Funtasiya tersebut yang lagi-lagi berkolaborasi dengan saudara Gerry dengan alat musik khas Sunda yaitu "Karinding". Mas Gery adalah salah satu penggerak acara Funtasiya 2014 sekaligus salah satu aktifis Teater Perisai. Kidung tersebut selesai, sedikit ada waktu jeda untuk menyapa pengunjung, sedikit ucapan terma kasih untuk acara Funtasiya, beberapa salam untuk teman-teman juga yang sudah datang di acara tersebut. Dalam pengucapan salam di acara FUNTASIYA tersebut, kami mencoba mengucap 4 salam yaitu : Assalamua'laikum, Om Swastiastu, Salam Sejahtera, Salam Budaya dengan tujuan agar tidak tidak bertendensi pada satu kepercayaan saja. Kemudian senandung Lentera Malam tersebut kami akhiri dengan kidung "Tiga Titik Hitam" dari Burgerkil.
Senandung Lentera Malam yang terakhir di Tahun 2014
Beberapa teman dekat kami bertanya-tanya akan rumor yang sedikit bocor disekitar Lentera Malam, terdengar berita bahwasanya Lentera Malam akan berhenti sejenak dalam Senandungnya. Ya bisa kami bilang begitu, kami punya sedikit cara lain untuk proses kami, tak seperti kebanyakan musisi atau band yang biasanya justru gencar sekali mencari panggung manakala sudah mulai banyak orang yang mengetahui atau mengenalnya. Kami mencoba untuk mengambil cermin cekung yang akan membuat bayangan objek terbalik ketika bercermin. Kami mencoba sesuatu yang menurut kami adalah kebalikan dari beberapa musisi atau band pada umumnya. Bisa dibilang kami berhenti untuk Bersenandung di panggung hingga waktu yang masih kami rahasiakan, intinya kami ingin berproses, memperkaya karya kami, mencoba mengemas dengan apik hingga suatu saat nanti ada kalanya kami akan membuat sebuah pagelaran yang harapannya lebih maksimal dari Pagelaran Lentera Malam yang pernah terwujud di bulan Juli 2014 lalu. Tidak semata-mata kami vakum seperti yang teman-teman khawatirkan, justru kami mencoba lebih produktif ketika sebutan "Vakum" sedang kami jalani. Menyiapkan beberapa karya lebih adalah PR yang sangat besar untuk masing-masing Nahkoda Lentera Malam. Sekian catatan tentang Senandung Lentera malam di Acara Napak Lair Teater Perisai dalam rangkaian acara FUNTASIYA 2014. Terima kasih sudah menyimak tulisan kami ini, salam budaya !


